Postingan

Menampilkan postingan dengan label I'll be There

I'll Be There Scene 7

Ibu Mii yang langsung pergi ke sekolah setelah di telepon pihak sekolah soal Mii, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya. Hal yang paling pertama ia lakukan adalah menemui wali kelas Mii dan minta diantarkan ketempat Mii berada. Wali kelas menenangkan ibu Mii, karena sudah ada Yuu disamping anaknya. Tapi tetap tidak membuat ibu Mii berhenti gelisah. "sesuai dengan yang kuperkirakan, ah tapi aku jadi sedikit menyesal." Yuu menunjukan wajah pura-pura merasa bersalah. "lihat Nao, orang seperti ini yang habis-habisan kau bela" Mii muak melihat wajah kedua orang didepannya. Nao mendekati Yuu, "kak, kau hanya mau melindungi Mii kan? Dan membiarkan dirimu yang dapat anggapan jelek?" Nao masih tetap membela Yuu, atau mungkin yang dia bela adalah pendapat dia sendiri soal Yuu. "Nao-kun kamu baik sekali denganku, baik dengan bodoh itu beda tipis ya" Yuu nyengir melihat Nao. Ia sedih melihat Yuu berkata itu tentangnya. ...

I'll be There Scene 6

"dia bilang padaku untuk mengembalikan ini. Yah kurasa memang harus dikembalikan" Yuu memberikan sebuah bungkusan plastik pada Nao. "apa ini? Dan dari siapa?" Nao terlihat bingung saat sekian hari tidak berjumpa dengan Yuu, tapi tiba-tiba Yuu memberikan benda untuknya. "bendanya tidak penting, tapi lama-nya yang penting. Aku sudah meminjam terlalu lama." Yuu memang sengaja menjawab pertanyaan Nao dengan jawaban gantung. Ia ingin melihat ekspresi Nao apakah dia akan menerima saja dengan ikhlas pada apapun pemberiannya, atau memberontak.. "kurasa penting bagiku untuk tahu". Ternyata Nao sudah bisa menunjukkan kekesalannya, tapi bukan menjadi hal yang Yuu kecewakan. Yuu sengaja melihat sampai dalam ke mata Nao. "kakak, aku benar-benar sudah habis olehmu. Bisakah tidak memperlakukan aku.. ." Nao kehabisan niatnya untuk mengadu. Karena baik dipikir oleh otak siapa pun, bukan salah Yuu selama ini. Bukan salah Yuu karena sudah me...

I'll Be There Scene 5

Minggu bukan menjadi hari yang menyenangkan untuk Yuu. Tapi ia tetap bersyukur paling tidak, ia tidak perlu terlibat percekcokan (yang biasanya dimulai dari adiknya) dengan Mii. Seperti biasa Mii selalu punya kegiatan sendiri di luar rumah. Yang Yuu lakukan saat hari seperti ini adalah menyendiri di kamar.  Terkadang ayahnya tiba-tiba masuk untuk menanyakan kondisi Yuu. Sudah makan atau belum, atau punya kegiatan diluar tidak, atau kenapa kau tidak ikutan saja kegiatan yang Mii lakukan bersama temannya. Yuu mengerti maksud ayah yang khawatir dengan status Yuu di hubungan sosialnya. Ayah takut Yuu akan menjadi katak dalam tempurung karena hobinya yang suka dirumah. "Nao-kun pacaran dengan Mii ya?" untuk ke-lima kalinya ayah masuk ke kamar Yuu, dan saat itu Yuu hanya sedang duduk melihat ke jendela. Yuu menengok dan tersenyum, "mungkin iya, tapi mungkin juga tidak" "kenapa jawabanmu begitu, ah ayah pikir yang Nao suka itu..ah..kenapa anak muda mem...

I'll be There Scene 4

"Harada tadi adik kelas yang manis itu lagi-lagi mencari mu.. " beberapa teman Yuu menghampirinya. "iya, aku sudah bertemu dengannya. Terima kasih" "hanya begitu saja bilang terima kasih, kamu masih kaku saja dengan kita." salah satu dari temannya  mencoba lebih dekat. Ia menarik kursi kedekat Yuu. "ngomong-ngomong dia selalu minta diajari pelajaran apa saja denganmu?" temannya duduk didekat Yuu seperti polisi yang sedang menginterogasi tersangka. "ah dia selalu bilang begitu, ya?" Yuu sedikit tersenyum karena tidak menyangka Nao selalu berbohong dengan memberi alasan palsu untuk mencari Yuu. "loh, memangnya bukan belajar ya? Jadi apa? Tidak mungkin berkencan kan?" teman-temannya semakin tertarik dengan Yuu. Yuu yang sedari tadi duduk didekati para teman-teman sekelasnya tidak mampu menahan tawa.. "aku mengajari nya banyak hal, kalian penasaran bagaimana caraku menarik hatinya?" Yuu memasang wajah s...

I'll be There Scene 3

Berjalan perlahan menyusuri tangga samping koridor. Siang itu saat jam istirahat tiba Nao melakukan hal yang sering ia lakukan sendirian. Melewati banyak pasang mata yang mengamatinya, mulai dari pandangan kagum hingga pandangan nyaris tak berkedip. Seperti Mii, Nao terkenal karena ketampanannya dan prestasinya disekolah. Banyak siswi yang ingin mengajaknya kencan, dari yang diam - diam sampai berani mengajak di depan banyak orang. Hampir seluruhnya ditolak dengan manis oleh Nao. Isu yang beredar tentang hubungan dekat Nao dan Mii sebenarnya tidak cukup mengganggu Nao, terlebih lagi Nao pembawannya tetap tenang selama 'hal' itu tidak menyulitkan hidupnya. Untuk Mii sendiri sudah dapat ditebak dia akan merasa terbantu dengan isu tersebut. Kali ini seperti yang sudah sering ia lakukan setiap siang adalah berjalan melewati koridor untuk angkatan kelas 3. selain jarak nya dekat dengan tangga, Nao bisa punya alasan karena ruang perpustakaan masih disekitar sana. Nao terbiasa...

I'll be There Scene 2

"Mii menyukai Nao.." Mii berdiri disamping meja belajar Yuu, mengatakan hal yang sudah lama ingin ia utarakan. "terus?" seperti tidak ada ketertarikan sekali Yuu menanyakan pertanyaan tidak berujung. "Mii kira kakak tidak terlalu bodoh untuk soal ini. Mii ingin memastikan agar kakak tidak menghalangi Mii" Yuu mencoba untuk tetap dingin menanggapinya. Ia menutup laptopnya, "kau pikir aku akan tersulut emosi?".. "jangan bodoh Mii sayang.." Yuu tersenyum sinis dihadapan Mii. "bagus lah, sikap seperti ini yang Mii harapkan." sekejap Mii keluar dari kamar mereka sambil menenteng buku catatan. "aku tidak pernah berniat untuk menghalangi jalanmu, memang kita dilahirkan untuk berada di posisi masing-masing sesuai harapan ayah." Yuu mengatakan hal itu setelah memastikan tidak ada lagi sosok Mii di dekatnya. _______________________________________________________________________ Kembali ke ingatan milik...

I'll be There Scene 1

Lanjutan komik… "Dia masih begitu.." senyum getir terlukis di wajahnya. Hanya bisa itu yang ia perbuat di sore sendu ini. Nao kembali pulang dengan memaksakan wajah senang seperti biasa. Memutuskan untuk melupakan kejadian tadi, sosok kakak perempuan baik hati yang sangat dia sayang sudah tidak terlihat lagi. Sosok baik hati itu hanya ada didalam pikiran Nao, tertanam dan bertahan dari hari ke hari. Yuu, berjalan ke arah rumahnya. Rumah yang bagi dia semakin hari semakin memuakkan, sedari kecil ia merasa mendapat kasih sayang palsu dari keluarganya. Luka kecil di pergelangan tangannya yang ia peroleh sama sekali tidak ia dapat ia rasakan, mungkin sensor nyerinya tidak berfungsi lagi semenjak kematian Kak Yuto, cinta kecilnya. "kau seperti habis berkelahi saja, kak.. Aku yang selalu kau anggap jahat dan bodoh saja tidak pernah sampai membuat kekacauan,kenapa kau yang anak rajin berantakan begini??" suara manis tetapi bernada pedas keluar dari mulut adik pe...